Showing posts with label peternakan-pertanian. Show all posts
Showing posts with label peternakan-pertanian. Show all posts

Nutritionist as a value, marketing as a tool (2)

markplus-hermawan-kartajaya2 Salah satu minor dari mayor animal husbandry science (ilmu peternakan) adalah teknologi pakan (feed technology), pakarnya disebut sebagai nutritionist. Ketika saya masih menempuh kuliah di IPB dan Univ.Brawijaya, saya memprediksi nutritionist akan menjadi profesi paling bergengsi di masa depan. Saya melihat ada benang merah antara peran besar nutritionist dan pemenuhan kebutuhan pangan dunia. Kenapa? Karena di tangan nutrinionist, usaha-usaha peternakan sebagai sumber pangan hewani menggantungkan 70% produktivitas dan kesuksesannya. Terlebih diramalkan bahwa penduduk dunia akan semakin bertambah, that means there will be more stomach to be filled in with food. That means, nutritionist gonna be one of big profession in the future. Mau nggak mau, nutrisionis akan menjadi salah satu profesi paling bergengsi di masa depan. Karena itu, dulu sewaktu saya masih kuliah, saya mengajak teman-teman kuliah untuk mengadakan Feed Formulation Training 2005 and 2006. Acara pelatihan formulasi makanan ternak yang dikemas lain, yang lebih unik, yang lebih keren, dan yang paling dahsyat acara ini untuk pertama kalinya diisi pemateri dari mahasiswa. Benar-benar bonek bukan?! :). Acaranya dipublish habis-habisan agar laku, sampai kami minta tolong pada majalah trobos (www.trobos.com) agar mau menjadi sponsor dan mengiklankan acara kami. Hasilnya? Peserta yang datang tidak hanya dari mahasiswa IPB sendiri, tapi juga dari praktisi industri pakan dan peternakan. Keren kan?..:) Sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana mencapai kesana? Bagaimana menjadikan profesi nutrisionis menjadi bergengsi? Bagi saya, jawabannya adalah marketing! Hanya dengan marketing lah seorang nutritionist akan terus melakukan riset dan update ilmu agar value nya sebagai nutritionist menjadi laku di pasaran nantinya, biar nggak ketinggalan jaman, hanya dengan marketing lah kita mengetahui bagaimana caranya agar kita (nutrisionis) dikenal dan laku. Dengan memahami marketing, seseorang akan menentukan positioningnya sebagai nutritionist. Pengen jadi nutritionist khusus hewan ruminansia/mamalia, atau pengen jadi nutritionist khusus unggas (darat maupun air), atau apalah positioning yang diinginkan. Dengan positioning, seseorang akan lebih focus. Mr Hermawan mengatakan konsep sederhana modern marketing adalah Positioning, Differentiation and Branding. Ketika semua menjadi nutritionist, agar eksis dan laku, apa diferensiasi anda?..apa yang menjadikan anda lebih istimewa dibandingkan yang lain?...dari positioning dan diferensiasi ini kemudian akan terjadi branding yang kuat, indikasinya adalah ketika orang melihat atau mendengar nama anda, yang langsung muncul dalam pikiran mereka adalah anda seorang nutritionist handal dibidang ternak sapi, atau mungkin ayam atau industri pakan. Wuih, bicara saya kok kayak pakar marketing ya, hehehe….(astaghfirullah, narsis mode on). So the conclusion is marketing is an strategic tool to rise nutritionist as a great profession, as a world class profession. Bagaimana, anda punya pendapat lain?

Nutritionist as a value, marketing as a tool (1)

markplus-hermawan-kartajaya2

Kira-kira 10-12 tahun yang lalu, yang jelas saya masih SD (Sekolah Dasar), saya nonton sebuah TV show di sebuah stasiun televisi, klo ga salah ANTV, saya juga sudah lupa apa nama acaranya, yang jelas di acara tersebut saya pertama kali melihat sang maestro marketing Asia, Mr. Hermawan Kartajaya memandu acara diskusi yang seingat saya membahas masalah multi level marketing (MLM). Namanya juga anak SD, saya jauh dan jelas pasti nggak ngerti apa yang dibicarakan mr Hermawan waktu itu. Tapi juga ga ada jaminan saya mengerti 100% konsep yang dia paparkan saat ini, hehe…Saya kemudian menemui kembali sebuah acara yg membahas konsep-konsep marketing oleh Hermawan Kartajaya di radio Smart FM ketika saya masih mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya begitu menyimak setiap paparan dan nasehat-nasehat marketingnya. Salah satu kata yang masih terngiang di telinga saya sampai saat ini adalah “Be credible on your promise”..:). Saya suka kata-kata tersebut, karena punya content, yang menurut saya sama dengan content nasihat hadist Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan untuk memenuhi janji, karena janji adalah hutang. Arek Suroboyo yang satu ini memang lihai dan cerdas dalam mensintesa dan memaparkan konsep-konsep marketing modern. Di tangannya, istilah marketing jadi sangat attractive. Saya yang kuliah bidang nutrisi pakan ternak, ikut-ikutan jadi marketer-maniak. Pokoknya maksa banget belajarnya, tapi feeling nya happy J. Apa yang saya tangkap (sebagian kecil aja, hehe) dari gambar besar konsep marketing mr hermawan di buku The MarkPlus Festival edisi 2008 adalah marketing as a tool, or marketing as an instrument, marketing adalah sebuah alat. Alat apakah itu? Yang jelas adalah alat untuk memasarkan, entah itu komoditas barang (susu, telur, daging etc) atau komoditas jasa (consulting service, teaching, lecturing etc). (bersambung)

SWASEMBADA DAGING NASIONAL 2010, SULIT JIKA TIDAK SERIUS

pedet-limmousine kecil1

Swasembada daging di Indonesia adalah salah satu problema yang belum terselesaikan dengan baik hingga saat ini. Terbukti dari rencana pemerintah yang akan masih mengimpor karkas dan sapi hidup dari Australia tahun ini. Presiden SBY pada tahun pertama pemerintahannya berusaha menyelesaikan masalah daging dengan mencanangkan program Swasembada Daging Nasional 2010. Namun program tersebut ternyata belum diikuti dengan keseriusan seluruh stakeholders sehingga belum berjalan dengan optimal. Data terbaru menyebutkan populasi sapi di Indonesia pada tahun 2007 relatif tetap dibandingkan pada tahun 2006 yaitu pada kisaran 10,5 juta ekor.

Padahal kebutuhan akan daging sapi mengalami peningkatan, salah satu penyebabnya adalah adanya outbreak flu burung yang belum ditangani secara tuntas menyebabkan konsumen cenderung beralih dari daging unggas ke daging sapi. Ditjen Peternakan membuat target populasi sapi yang ideal pada tahun 2007 adalah 14.645.200 ekor dengan asumsi pertumbuhan penduduk 1,49%. Karena target tidak tercapai pemerintah pun bersiap-siap untuk meningkatkan jumlah impor sapi potong sebagai langkah preventif untuk menjaga populasi sapi lokal tetap sustain dan tetap menjaga kestabilan pemenuhan kebutuhan daging domestik. Apabila sapi lokal terus dipotong untuk memenuhi kebutuhan daging domestik, dikhawatirkan menyebabkan degenerasi populasi sapi lokal dalam jumlah besar.

Kegagalan pemerintah dan stakeholders dalam meningkatkan populasi sapi potong dan menjaga kestabilan produksinya sesuai target, menyebabkan terjadi saling tarik ulur antara pihak yang menginginkan konservasi sapi lokal sebagai plasma nutfah, pihak yang berkepentingan dalam usaha penyediaan karkas sapi potong dan pihak anti impor. Hal ini juga mengindikasikan cetak biru pembangunan peternakan di Indonesia masih kabur, sehingga berakibat pada kegagalan yang dialami setiap waktu.

Cetak Biru Pembangunan Peternakan

Cetak biru pembangunan peternakan seharusnya meliputi pembangunan segala aspek yang terkait sehingga terbentuk suatu peternakan yang sustain. Tapi juga jangan hanya sekedar sebatas cetak biru saja, harus diaplikasikan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Peternakan yang sustain dari sudut pandang peternak harus memenuhi tiga syarat penting yaitu biologi, ekologi dan sosio-ekonomi. Mengapa? Karena dengan terpenuhinya ketiga syarat tersebut maka peternakan yang terbentuk adalah peternakan yang memiliki kemandirian dalam menghasilkan populasi ternak yang berkualitas, relatif ramah lingkungan sekitar peternakan, diterima oleh masyarakat sekitar peternakan dan memiliki nilai profit tidak hanya bagi pemilik tapi juga bagi masyarakat sekitar dan perekonomian nasional.

Sedangkan bagi pemerintah sebagai regulator, dinamisator dan katalisator harus betul-betul memaksimalkan peranan yang dimiliki sehingga langkah peternak tidak sia-sia. Membangun peternakan yang sustain dilihat dari sudut pandang peranan pemerintah adalah penyediaan SDM yang jelas berkualitas, menyediakan kredit peternakan dengan bunga khusus, membangun infrastruktur seperti pelabuhan dan pasar ternak yang memadai, alat transportasi khusus ternak yang memadai, kebijakan IB murah atau gratis bagi ternak rakyat, kebijakan standar harga sapi/pedet hidup dan karkas di tiap daerah yang dapat dijadikan pedoman bagi semua pihak dan berbagai kebijakan lain yang benar-benar hasil analisa kondisi riil di lapang.

Pemerintah kemudian juga dapat menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi dan pusat penelitian untuk mencari solusi teknologi sederhana dan tepat guna sehingga mampu memacu produktivitas peternakan dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Kemudian teknologi tersebut dapat diujicobakan dan diaplikasikan ada UPT peternakan sehingga dapat terbentuk UPT peternakan yang layak dan mudah dicontoh oleh peternak dari skala kecil hingga skala besar.

Mengapa harus swasembada?

Pertanyaan itu dapat saja timbul di benak siapapun, karena mungkin belum paham betapa pentingnya untuk swasembada salah bahan pangan. Swasembada bahan pangan sumber protein hewani adalah salah satu kunci sukses untuk mencerdaskan bangsa. Swasembada bahan pangan adalah kunci sukses kebebasan atas hegemoni dan intervensi negara adikuasa. Sejarah telah membuktikan bahwa kehancuran suatu negara selalu akan dipicu dari dua hal yaitu krisis energi dan krisis pangan. Mengapa? Karena dengan kedua hal itu rakyat jelata dapat bertahan hidup.

Ketika akses untuk pangan dan energi mengalami kebuntuan, maka gelombang sikap protes rakyat yang menderita akan menghempaskan pondasi kekuatan penguasa. Negara akan memasuki masa-masa yang labil dalam segala hal. Iklim politik akan memanas akibat tekanan yang bertubi-tubi. Pada akhirnya perekonomian negara mengalami kebangkrutan akibat iklim usaha yang tidak kondusif lagi. Oleh karena itu swasembada daging adalah mutlak untuk diraih sebagai satu bagian kecil dari langkah besar menuju kemakmuran dan kehormatan bangsa Indonesia.

Kita harus sadar!

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pokok permasalahan dari mandegnya Program Swasembada Daging Nasional 2010 adalah kurangnya keseriusan dan komitmen dari pemerintah dan stakeholders. Oleh karena itu apabila memang menginginkan program yang dicanangkan ini benar-benar tercapai maka mari kita bersikap lebih serius dan selalu komitmen agar progam ini berhasil dan sustain. Keseriusan dan komitmen akan timbul apabila kita semua sadar bahwa ini adalah urgen dan tidak bisa ditawar lagi!.

Nasib peternak di Indonesia tidak jauh dari nasib petani dan nelayan, selalu ditipu, ditindas dan dibuat susah. Oleh karena itu komitmen untuk mengangkat nasib peternak melalui berbagai kebijakan yang akan memudahkan peternak mutlak diperlukan jika kita memang orang yang benar. Kebijakan yang dibuat tidak berdasarkan kondisi riil lapang yang up to date, hanya akan jadi pepesan kosong belaka.

(Malang, 21 Mei 2007)

Impor Bebek, Solusi Cerdas bagi Ketahanan Pangan?

bebek-peking-0 Setelah perunggasan nasional hancur dengan jatuhnya harga ayam hingga di bawah BEP, baru-baru ini perunggasan negeri ini kembali harus menelan pil pahit. Tanggal 26 Februari 2007, Departemen Pertanian mengizinkan importasi 450 ton daging bebek beku asal Malaysia melalui pelabuhan Belawan, Medan. Departemen beralasan bahwa ini dilegalkan karena Malaysia sudah bebas flu burung (FB), selain itu untuk memenuhi kebutuhan daging bebek peking bagi restoran mewah dan hotel karena pasokannya masih kurang. Dari fenomena ini, tak terhindarkan timbul kesan, impor adalah solusi yang paling mudah diambil pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ketahanan pangan bangsa ini. Salah satu tokoh perunggasan nasional berkomentar, kebijakan impor daging bebek lebih mengarah pada kepentingan sesaat tanpa memikirkan perkembangan perunggasan nasional. Pernah, 2003 Mentan Prof Bungaran Saragih berencana mengimpor telur dari Malaysia. Kebijakan tersebut banyak menuai kritik keras. Telur impor diyakini akan melemahkan pasaran telur lokal, karena harga telur impor jauh lebih murah. Dikhawatirkan kebijakan tersebut akan merugikan peternak lokal. Berdasarkan data yang ada, diketahui laju pertumbuhan peternakan broiler dan layer kala itu, dalam kurun 2000-2003 masing-masing 23,4 % dan 10,27 %.



Jangan Buang Devisa


Seharusnya pemerintah harus lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dengan matang kelayakan impor dilakukan pada kondisi saat ini. Apabila hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar elit, mengapa harus mengorbankan nasib para peternak kecil yang mengandalkan penghidupannya dari usaha tersebut.
Berita impor unggas ini tak pelak sedikit banyak akan berimbas pada harga produk unggas. Ditambah lagi saat ini para peternak sedang dalam kondisi yang memprihatinkan akibat wabah FB. Banyak peternak unggas di Jawa Timur  gulung tikar akibat hantaman wabah FB dan harga produk unggas yang jatuh. Padahal peternakan adalah salah satu komponen penggerak perekonomian mikro bangsa ini. Solusi utama menyelesaikan problem ketahanan pangan nasional semestinya dengan swasembada, bukan dengan impor. Ketimbang membuang devisa negara untuk membeli produk peternak luar negeri, jauh lebih baik dana itu digunakan mengonsumsi produk  lokal karena nilai lebihnya bermanfaat bagi peternak kita.


Fakta Berkebalikan, Sebuah Ironi
Adalah sebuah ironi ketika negara ini lagi-lagi impor. Sementara plasma nutfah dan potensi alam begitu melimpah. Negeri ini punya itik Alabio, Mojosari dan berbagai ras itik lokal lain yang menunggu untuk dikembangkan lebih besar lagi. Sehingga konsep ketahanan pangan nasional dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dapat dicapai dengan mengandalkan produk negeri sendiri. Negeri ini katanya negeri agraris, maka idealnya menjadi net exportir produk pertanian termasuk peternakan. Fakta berkebalikan terjadi pada negara ini. Mayoritas pasokan kebutuhan pangannya dipenuhi produk impor. Mulai dari beras, daging sapi, susu, jagung dan sekarang ditambah daging bebek. Jangka pendek bisa jadi kebijakan ini menyelesaikan masalah. Tapi bagaimana dengan akibat jangka panjang?


Iri yang Mengkhawatirkan
Tak menutup kemungkinan kebijakan impor daging bebek ini membuat iri impor-impor produk peternakan yang lain. Akhirnya, ketika terjadi kekurangan pasokan produk peternakan lain, impor menjadi sebuah solusi primadona. Ini sangat mengkhawatirkan. Permasalahan yang menimpa bangsa ini sudah sangat kompleks, maka seyogyanya satu persatu masalah tersebut dikikis. Permasalahan peternakan adalah permasalahan ketahanan pangan, dan permasalahan pangan adalah permasalahan vital yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Permasalahan ini harus ditangani secara profesional dengan mempertimbangkan banyak aspek terutama bagaimana efeknya pada masa mendatang. Permasalahan pangan bangsa ini harus dituntaskan dengan segera. Dan swasembada adalah cara terbaik dalam menyelesaikan masalah ini. Anda punya pendapat lain ?


(artikel ini diterbitkan di majalah Trobos edisi 1 Mei 2007 atau klik di Impor Bebek, Solusi Cerdas bagi Ketahanan Pangan?)

Harga susu formula naik, kesejahteraan peternak sapi perah tidak juga membaik


susu kemasan
Pada bulan Juli semua biaya kebutuhan mengalami kenaikan, tidak hanya biaya kuliah yang melanda sebagian besar mahasiswa baru di Indonesia tapi juga para ibu konsumen susu formula bagi anak-anak mereka. Kenaikan harga susu formula yang dipekirakan sekitar 10-15% secara bertahap ini dirasakan sangat memberatkan bagi sebagian masyarakat menengah kebawah. Namun fenomena ini “bisa” dikatakan tak dapat dihindari, hal ini dikarenakan sebagian besar pasokan sebagian besar raw material milk bagi industri susu formula diimpor dari Australia dan New Zealand. Dimana diisukan terjadi kekeringan besar yang menyebabkan penurunan produksi susu dan pengurangan jatah ekspor susu ke Indonesia. Sesuai dengan hukum ekonomi bahwa ketika supply komoditas turun, demand komoditas naik, maka harga komoditas akan naik.
Kenaikan harga susu akan berdampak pada berkurangnya tingkat konsumsi susu oleh anak-anak terutama usia balita. Ini bisa sangat berbahaya dampaknya apabila sebagian besar balita di Indonesia kekurangan asupan nutrien yang cukup akibat naiknya harga susu formula. Secara makro, bayang-bayang penurunan kualitas pertumbuhan dan perkembangan balita sangat mungkin terjadi dan akan berdampak besar bagi keberlanjutan bangsa ini. Sehingga membutuhkan penanganan khusus yang komprehensif dan segera agar hal tersebut tidak terjadi.
Namun demikian, kenaikan harga susu formula ini dirasakan oleh banyak peternak sapi perah belum mampu mengatrol kesejahteraan mereka. Tanpa bermaksud mengecilkan hati mayoritas peternak kita, peternakan yang ada sekarang dinilai banyak kalangan nilai ekonomisnya kecil. Lebih dari 90 % model peternakan sapi perah yang diterapkan di Indonesia adalah peternakan kecil dengan rataan populasi sapi laktasi 3 ekor. Hal ini menyebabkan tingkat total cost produksi susu lebih tinggi daripada tingkat penerimaan (benefit) sehingga rasio B/C usaha yang dijalankan dibawah angka 1. Permasalahan total cost produksi kian berat mana kala harga konsentrat ikut melambung akibat naiknya harga beberapa bahan baku pakan seperti jagung dan pollard beberapa waktu yang lalu.
Lindungi konsumen, lindungi peternak
Peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah hanya dapat meningkat ketika total cost produksi dapat ditekan dan tingkat penerimaan (benefit) dapat meningkat lebih tinggi dari cost produksi. Pakan sebagai salah satu komponen biaya usaha yang paling besar (+60%) dapat ditekan dengan memanfaatkan berbagai bahan pakan lokal yang lebih murah karena cenderung tidak terpengaruh kondisi pasar internasional dan menerapkan metode formulasi pakan yang tepat. Disini peran Dinas Peternakan dan akademisi sangat diperlukan untuk membantu menekan biaya pakan peternak. Agar seluruh peternak bersemangat dalam menjalankan usahanya, perlu dilakukan pemberian subsidi harga oleh pemerintah sehingga posisi harga susu menguntungkan peternak namun juga diusahakan tidak memberatkan konsumen. Tanpa dilakukan sosialisasi tentang pentingnya air susu bagi bangsa sekalipun, peternak akan dengan sigap menjalankan usaha peternakannya dengan lebih serius. Sehingga dengan sendirinya, tingkat produksi air susu segar nasional akan mengalami peningkatan dan mencapai swasembada. Namun langkah subsidi di tingkat peternak juga harus dibarengi dengan persyaratan ketat kelayakan air susu yang berkualitas baik sesuai standar. Pemberian bantuan peralatan produksi, pinjaman dengan kredit lunak dan intervensi pemerintah dalam memperkecil kuota impor susu juga akan melindungi eksistensi peternak lokal.
Bangkitkan peternakan perah nasional
Program Revolusi Putih yang dicanangkan pemerintah beberapa waktu yang lalu di Sukabumi, Jawa Barat patut diapresiasi sebagai bentuk good will pemerintah menggapai swasembada susu nasional. Namun program tersebut perlu terus dikawal agar pelaksanannya sesuai dengan rencana dan terus mengalami perkembangan. Mengingat selama ini tidak sedikit program pemerintah di bidang peternakan yang jalan ditempat dan bahkan gagal.Sebagaimana yang kita ketahui, pembangunan persusuan nasional yang stabil dan tangguh tidak cukup diserahkan kepada Departemen Pertanian saja. Konsep yang dibuat harus meliputi pemikiran-pemikiran dari ahli peternakan, ahli pangan, ahli ekonomi, ahli infrastruktur, praktisi susu yang kompeten, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, dan pihak perbankan. Seluruh pemikiran yang ada dikumpulkan dan digodok untuk menghasilkan formula pembangunan yang tepat. Apabila serba jalan sendiri-sendiri, maka sulit untuk bangkit bersaing dengan negara lain.Negara ini sangat kaya akan sumber daya alam dan memiliki lahan potensial yang sangat luas, maka sangat disayangkan jika negara ini terus-terusan kalah dalam menangani susu dibandingkan negara lain. Negara lain seperti Selandia Baru, Belanda, Amerika dan Swiss sudah lama melakukan ekspor, negara kita masih berkutat dengan permasalahan peningkatan produksi. Bahkan negara tetangga terdekat, Malaysia sudah mulai mengungguli Indonesia.
Paradigma lama harus diubah
Ada dua kemungkinan mengapa produk susu lokal di Indonesia selama ini belum ditangani secara serius, yaitu karena produk susu belum dianggap sama vitalnya dengan beras dan minyak goreng. Sehingga alokasi dana pemerintah dalam mengembangkan peternakan dan industri susu lokal sangat kecil sehingga tidak begitu banyak memberikan dampak positif. Hampir setiap tahun, kondisi peternakan perah mengalami stagnansi dan bahkan mengalami penurunan akibat salah penanganan.
Penanganan susu sebagai salah satu komoditas pangan bangsa harus dilakukan secara serius dan profesional setara dengan komoditas lain seperti beras, minyak goreng, telur dan daging. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti susu dijadikan komoditas politik untuk menekan peranan Indonesia dalam melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Kesadaran jangka panjang untuk melindungi generasi bangsa dan peternak lokal perlu dimiliki oleh pihak penentu kebijakan sehingga setiap kebijakan yang dibuat tidak merugikan banyak pihak, terutama konsumen dan peternak.
 Sepakat?....

(Kos-kosan ASC JL. Kertosentono 45A, Malang, 18 Juli 2007)

Kelola peternakan sapi dengan basis pemikiran bio-industri

Tag Technorati: {grup-tag}
feedlot1

Peternakan sapi potong maupun sapi perah di Indonesia telah mengalami banyak perkembangan. Dalam hal ini perkembangan ke arah peternakan komersial dengan konsep manajemen yang lebih baik. Manajemen yang lebih baik artinya mampu mengelola peternakan dengan baik sehingga produktifitasnya tinggi, efisiensi tinggi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan peternakan konvensional. Pertanyaan lain yang muncul, apa itu bio-industri?.. Dalam pemahaman saya, definisi dasar bio-industri adalah suatu proses yang merubah bahan pakan (organic matter) menjadi produk pangan hewani (food) berkualitas, dengan memanfaatkan kemampuan organis me/mahluk hidup tertentu, dalam waktu yang relatif singkat dan se-efisien mungkin. Saya lebih suka menggunakan kata organisme karena cakupannya lebih luas ketimbang hanya menggunakan idiom sapi potong atau sapi perah. Karena fakta yang terjadi, proses produksi daging dan susu, bukan semata peranan organisme bernama sapi, tetapi juga mikro-organisme yang berada di dalam saluran pencernaan sapi, seperti protozoa, fungi dan bakteri yang membantu mencerna bahan pakan menjadi zat-zat essensi yang dibutuhkan untuk sintesa daging dan susu. Paradigma bio-industri dalam mengelola peternakan sapi potong/perah sangat penting, karena berkaitan dengan peningkatan daya saing dengan peternak lain di luar negeri yang sudah sejak lama menerapkan konsep peternakan modern. Tanpa perubahan paradigma, saya sangat yakin kita tidak akan mampu bersaing dengan peternak asing. massive-feedlot

Setelah konsep dasar peternakan dibangun, maka selanjutnya dibutuhkan tenaga pelaksana yang handal untuk mengeksekusi konsep dasar atau paradigma dasar tadi. Dalam hal ini dimulai dari peranan seorang manager farm atau bahkan sang owner sendiri yang merangkap sebagai manager farm, harus memiliki kapabilitas dan kapasitas yang cukup agar usaha peternakan mencapai prestasi yang diharapkan. Selanjutnya adalah peranan tenaga pembantu/supervisor yang terlatih dan terampil dalam tata laksana peternakan. Fasilitas peternakan yang bagus seperti kandang, feedbank, gudang pakan, alat produksi pakan, alat transportasi pakan, sumber dan instalasi air bersih, instalasi limbah dan aspek keamanan lingkungan sekitar usaha peternakan akan memberikan kontribusi yang besar sebagaimana kalangan industri non-bio yang sangat memperhatikan peranan fasilitas tambahan dalam memacu produksi dan efisiensi usaha. Komponen-komponen dasar usaha peternakan modern yang “dimiripkan” dengan usaha industri/pabrik inilah yang akan tinggi produktifitasnya dan kuat daya saingnya.

KOBE BEEF : Makanan lezat nan mahal

Pernah dengar istilah kobe beef atau daging steak kobe? Belum?..pernah mencicipi? belum juga?!!..kalau saya, pernah dengar tapi belum pernah mencicipi, hehe...Insya allah nanti kalau udah cukup uang.
Jadi, kobe beef adalah nama sebuah produk daging sapi yang biasanya digunakan dalam masakan daging steak. Dinamakan kobe beef karena dagingnya diperoleh dari sapi yang dikembangkan di daerah Kobe, pulau Honshu, Jepang. Sapi yang dikembangkan juga dikenal sebagai sapi Kobe atau Wagyu (wa = khas jepang, gyu = sapi), dimana secara asal-usul, sapi Kobe bisa dikatakan sapi endemis yang hanya ada di Jepang. Konon dahulu para peternak Jepang memberikan perlakuan khusus terhadap sapi Kobe. Ada yang mengatakan sapi Kobe diberi minum sake selama diternakkan dan dipijat secara rutin untuk melemaska otot-otot tubuhnya agar gemuk dan menghasilkan daging yang lembut. Istimewa bukan..anda pernah memijat hewan ternak anda? Hehe....^^
Tetapi saat ini, karena permintaan akan kobe beef yang begitu tinggi, luas lahan peternakan di Jepang yang menyempit, sapi Kobe kini dikembangkan di negara lain seperti Australia yang sejak 2005 berhasil mengembangkan pure bred (galur murni) keturunan sapi Kobe atau sapi Wagyu. Karena saking lezatnya dan begitu diminati oleh konsumen kelas atas, harga kobe beef sangat mahal. Sebagai contoh di sebuah restoran makanan Jepang di Jakarta menawarkan menu Japanese Prime Beef Shabu-shabu yang didalamnya ada 200 gram kobe beef dengan harga Rp.750.000-Rp.1000.000 bruto/porsi..dahsyaatt bukan!! Satu porsi kobe beef cukup untuk bayar uang kontrakan mahasiswa Brawijaya selama setahun.hheheh..
Mungkin ada yang bertanya, kenapa kobe beef bisa begitu lezat? Kenapa beda banget dengan daging sapi lainnya?..kenapa?..dan kenapa? ^^, well, ada banyak penjelasannya sih. Yang jelas menjadi begitu nikmat karena faktor serat daging dan perlemakannya. Nah disinilah kobe beef sulit ditandingi oleh daging sapi atau bahkan daging hewan lainnya. Dalam sebuah buletin yang dikeluarkan oleh Japan Meat Grading Ascociation, kobe beef dibedakan tingkatan kualitasnya berdasarkan Beef Marbling Score (BMS) mulai angka 1-12. ada yang belum mengerti istilah marbling? Marbling adalah kondisi perlemakan didalam daging termasuk daging sapi. Disebut marbling karena ketika karkas daging sapi dipotong membujur, akan nampak model lemak daging yang bulat seperti kelereng (marble). Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Universitas Queensland, Australia, lemak daging (intramuscular) pada kobe beef grade tinggi serupa dengan penampakan batu marmer (keren kan...!!), mengandung omega 3, kandungan lemak tak jenuh lebih tinggi dibandingkan lemak jenuh (2:1) sehingga bisa menurunkan kolesterol dalam darah. Artinya, kobe beef termasuk kategori pangan hewani yang sehat, meski nggak sehat buat kantong mahasiswa..hehe...apalagi sarjana muda wwkkwkw..
Nah, meski demikian hebatnya, bukan berarti kobe beef ini tokoh superheroes daging yang tanpa tanding. Saya teringat dalam sebuah perkuliahan bersama Prof. Lukman Hakim di kampus Peternakan Brawijaya. Beliau menyampaikan bahwa ada satu jenis sapi didunia ini yang berpotensi menyamai sapi Kobe dari Jepang, dan sapi itu adalah sapi asli Indonesia. Sapi apakah itu? Jika penasaran, anda bisa langsung menanyakan kepada Prof. Lukman untuk mendapatkan jawaban lengkap.
Tertarik untuk makan sapi kobe?..kerja dan jadi kaya dulu dong...heheheh....

Dari aku yang baru lulus,
Taufan Rahmatullah, S.Pt

Story of Sapi Perah PFH

Tidak terasa usia bertambah, dan rasa-rasanya uang tidak makin bertambah, hiks. Tapi tenang, insya Allah ilmu makin bertambah, amiiinn..Ni ceritanya saya sedang dalam proses penelitian, yups, penelitian, dan tentunya sudah memasuki tahap antara BAB III dan BAB IV, BAB Niat dah terlewati kok, he...he...Penelitian saya berkisar tentang sapi pakan sapi perah PFH.
Ada yang belum tau sapi perah PFH ? hmm..ok, klo gitu sebagai pendahuluan catatan konyol penelitian saya (mungkin jg ga layak jadi postingan), saya akan coba sebisa mungkin menerangkan sapi perah PFH. Sapi perah PFH adalah sapi perah bangsa FH yang berasal dari wilayah sumber bibit sapi perah di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) atau hasil persilangan dengan pejantan sapi perah bibit FH yang tidak diketahui kemurniannya. Pada umumnya sapi perah yang ada di Indonesia adalah PFH. Pemuliaan sapi perah di Jawa dimulai sejak dimasukkannya pejantan Friesian Holstein dari negara Belanda oleh Bosma Van Andel pada tahun 1891-1893 di wilayah Kawedanan Tengger Kabupaten Pasuruan, kemudian pada abad ke 20 Indonesia mengimpor sapi FH dari Belanda melalui jawatan kesehatan pusat guna meningkatkan produksi susu dan akhirnya pada tahun 1980 sapi ini mencapai ribuan ekor jumlahnya.
Populasi sapi perah di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 374.000 ekor dan produksi susu sebanyak 505.000 ton. Di propinsi Jawa Timur populasi sapi perah mencapai 134.043 ekor dengan perkiraan produksi susu 180.958 ton. Ciri-ciri sapi perah PFH antara lain warna belang hitam putih dengan dahi bertanda segitiga warna putih, keempat kaki bagian bawah dan ekor berwarna putih, tanduk pendek dan menjurus ke depan, lambat dewasa, tenang, jinak, tidak tahan panas, muda adaptasi, produksi susu sekitar 2500 kg setiap periode laktasi, lingkar dada pada jantan 193 cm dan betina 180 cm.Satu ekor sapi PFH betina bisa dijual sekitar 13 juta/ekor tergantung kondisi fisiologis dan performa produksi susunya, kalao yang jantan lumayan murah, pedetnya ya masih sekitar 4 jutaan lah untuk usia 1 minggu. Lebih mudahnya kalau kamu maen atau bahkan tinggal didaerah Wonosalam (Jombang), Batu, Malang, Pasuruan, Blitar, Tulungagung, SUkabumi, Bandung pasti ketemu sama sapi yang satu ini. Atau kalau mau mudahnya, doakan saya biar segera lulus dan punya usaha sapi potong dan sapi perah yang besar, tar kuajak liat-liatlah sapi-sapi di kerajaan bisnisku, he..he..

Pertanian dan Peternakan, sebagai batu bata fundamental perekonomian Indonesia

Seperti yang sudah diketahui saat ini, dunia mengalami krisis financial global yang dipicu krisis kredit property di Amerika Serikat. Krisis yang menyebabkan pemerintah AS mengeluarkan dana talangan US$ 700 juta tersebut pada akhirnya melumpuhkan perekonomian AS sendiri dan tentunya “menular” ke Negara lain di Eropa, Afrika dan Asia, termasuk juga di Indonesia
Saya membaca di beberapa Koran harian mengenai krisis financial global ini, dampaknya memang sungguh luar biasa. Terlihat dalam harian yang terbit beberapa hari ini mengenai dampak krisis tersebut, gambar para pialang saham dari beberapa Negara di Eropa dan Asia yang sedih, menutupi wajah dan seperti hampir menangis. Saya baca dibawah gambar tersebut tulisan yang menerangkan mereka yang sedih tersebut disebabkan beberapa persen asset mereka dalam saham menguap begitu saja akibat krisis ini. Duh, rasanya gimana ya klo satu menit yang lalu kita punya asset milyaran rupiah dan dalam satu menit berikutnya semuanya tiba-tiba raib begitu saja..?
Pemerintah Indonesia yang menerapkan system perekonomian hasil jiplakan dari Amerika Serikat pun lumayan panic, meski dalam keterangan persnya selalu menyatakan agar masyarakat tidak panic. Dibuatlah beberapa kebijakan yang saya sendiri belum ngeh, salah satunya menaikkan BI rate. He..he.., maklum belum begitu dalam belajar tentang perbankan. Tapi yang saya ketahui dari berita lain bahwa kunci untuk menolong Indonesia dari krisis ini adalah penguatan ekonomi di sector riil. Kalau anda belum mengerti apa itu sector riil, contoh paling mudah ya itu si abang bakso yang jualan di pinggir jalan, ibu-ibu jual gorengan, warung tegal, gerobak es cendol, petani di sawah, peternak sapi perah itulah contoh sector riil atau ekonomi mikro. Atau dalam bahasa kerennya teman-teman ekonomi disebut UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Opini dari para ahli pun bermunculan untuk sumbang pemikiran tentang solusi menghadapi krisis ini terutama dalam jangka panjang. Di harian Kompas edisi 18 Oktober 2008 terdapat artikel berita yang cukup menarik berjudul “Pertanian Harus Diselamatkan”. Artikel tersebut membahas hasil diskusi “ Peluang Pertanian di Tengah Krisis Keuangan Global” di Institut Pertanian Bogor. Inti dari artikel tersebut adalah pemerintah harus segera menerapkan kebijakan ekonomi yang pro pertanian, karena pertanian merupakan bagian dari fundamental ekonomi negara.
Saya sependapat dengan apa yang dinyatakan dalam artikel tersebut, tidak hanya pertanian, peternakan pun bagian dari fundamental ekonomi bangsa ini. Karena dari kedua sektor tersebut, harapan terhadap ketersediaan pangan negara ini ditambatkan. Bayangkan saja, apabila pemerintah masih saja belum memberikan kebijakan yang bersifat melindungi petani-peternak seperti proteksi harga komoditas saat panen raya, proteksi harga saprotan (sarana produksi pertanian) dan sapronak (sarana produksi peternakan), dan beberapa kebutuhan lain. Padahal petani-peternak termasuk golongan ‘pengusaha’ yang tergantung pada kredit pinjaman bank atau lembaga keuangan mikro untuk mengawali usahanya. Petani-peternak dengan ‘daya’ modal yang lemah, melakukan gambling dengan meminjam uang sebagai modal usaha. Ketika krisis ini semakin luas dan nyatanya demikian, pertanian dan peternakan akan terlibas habis karena tidak dapat bertahan. Apa jadinya kalau negara ini sudah tidak memiliki lagi petani yang menanam padi, jagung, kedelai di lahannya? Apa jadinya negara ini kalau sudah tidak memiliki lagi peternak yang memelihara ayam potong atau sapi perah? Apa jadinya klo masyarakat petani yang sudah tidak punya keahlian lain selain bertani, terpaksa menganggur karena sudah tidak ada hasil yang diharapakan? Berapa juta pengangguran yang akan timbul ? Klop deh akhirnya, setelah krisis global berakhir, Indonesia terpaksa kembali melakukan impor bahan pangan dari negara lain, pengangguran naik, kemiskinan naik. Pada akhirnya ledakan gejolak sosial yang terjadi, bisa jadi persis yang terjadi pada saat krisis moneter 1998. Duh...
Menurut saya pemerintah Indonesia terutama tim ekonominya harus segera merumuskan dan melaksanakan kebijakan perekonomian makro yang pro petani-peternak. Kebijakan yang membuat denyut hidup industri berbasis komoditas pertanian semakin keras. Jangan hanya pengusaha properti atau migas saja yang dilindungi. Petani-peternak yang notabene banyak orang kecil harus diprioritaskan juga. Negara maju seperti AS dan Cina begitu memperhatikan sektor penghasil pangan mereka yaitu pertanian dan peternakan, meski ditengah krisis global ini. Dalam pandangan saya, kedua negara maju tersebut sudah sangat lama menganggap pertanian dan peternakan adalah bagian dari batu bata pembangun fundamental perekonomian negara. Mengapa Indonesia tidak? Sadarlah Pak SBY yang doktor pertanian, bahwa pertanian dan peternakan di negara kita harus dilindungi agar negara kita punya harapan untuk ‘selamat’. Duh siapa saya ya, kayak udah ahli aja mengingatkan SBY segala, he...he....

Family Poultry Farming

Bagi anda yang punya saudara tinggal di kampung, teman di kampung, orang tua di kampung atau anda sendiri tinggal di kampung, pasti tidak asing dengan keberadaan ayam kampung
yang bebas berkeliaran kesana-kemari. Ayam-ayam tersebut dipelihara secara sederhana, biasanya tujuan dari peternakan tersebut sederhana yaitu untuk “tabungan” daging ketika dibutuhkan kalau mau mengadakan hajatan atau sekedar pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi keluarga. Pola peternakan ayam semacam ini dalam ilmu perunggasan dunia dikenal dengan istilah Family Poultry Farming atau Beternak Unggas skala Rumah Tangga, agak keren ya istilahnya?..he..he.., well biasa aja mungkin.
Beternak unggas semacam ini banyak ditemui di negara berkembang Asia seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, Thailand, sebagian kecil Cina dan bahkan di masa lalu penduduk Amerika juga beternak ayam semacam ini. Kalau sering lihat film sejarah koboi kayak The Magnificent Seven atau Shaolin Kungfu yang dibintangi David Carradine, pasti menemui pola kehidupan para koboi yang beternak unggas seperti ayam dan kalkun dalam skala rumah tangga. Khusus di Indonesia pola beternak semacam ini sangat diminati oleh sebagian besar keluarga dari kalangan petani, peternak, guru, pedagang pasar dan bahkan nelayan. Begitu diminati karena sangat mudah dan hasilnya juga lumayan. Pakan yang diberikan cukup dari sisa-sisa makanan rumah, limbah hasil gilingan padi, rayap rumah, cacing, siput dan beberapa hewan kecil disekitar rumah. Dampaknya adalah setiap limbah makan rumah tangga hampir 100 % termanfaatkan kembali melalui unggas yang dipelihara disekitar rumah.
Jenis unggas yang biasa dipelihara pada jenis peternakan seperti ini antara lain ayam kampung, entog dan angsa. Ayam kampung atau ayam buras memiliki nilai jual karkas/daging yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan ayam potong ras, satu kilogram karkas ayam kampung sekitar Rp. 20.000-25.000,- pada waktu normal, tidak menjelang hari raya atau tahun baru. Sedangkan karkas ayam potong ras hanya berkisar pada Rp.12.000-14.000,- pada waktu normal. Rasa daging ayam kampung yang lembut, aromanya wangi dan warnanya khas kekuningan menjadikan daging ayam kampung memiliki segmen dan kelas konsumen tersendiri di beberapa restoran berbintang. Di Cina, ayam kampung adalah bagian dari bahan kuliner yang begitu digemari karena kelezatannya yang tiada tara, ya aku sendiri belum nyoba sih, he…he….
Namun dalam penilaian sebagian para ahli unggas, peternakan model ini rentan terhadap timbul dan penyebaran penyakit hewan menular. Alasan utama adalah mengenai lemahnya biosekuriti atau penjagaan ayam dari ancaman makhluk hidup mikro yang bersifat patogen. Berbeda dengan peternakan modern yang sudah menggunakan model kandang tertutup (closed house), manajemen pakan dan manajemen biosekuriti yang ketat dan modern. Baru-baru ini Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dalam mengadakan seminar nasional bertopik”Bioteknologi Peternakan dan Family Poultry Farming : Pengembangan di Masa Mendatang”. Seminar tersebut juga membahas fenomena family poultry farming di Indonesia yang saat ini cukup besar. Panelis bernama Dr. L. Hardi Prasetya dari MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia) dan Dr. Desianto B. Utomo dari PT. Charoend Phokpand Indonesia merekomendasikan untuk memperbaiki pola peternakan unggas skala rumah tangga yang cenderung melepas bebas ternaknya di alam sekitar. Hal demikian menurut mereka akan sangat rentan tertular penyakit seperti Flu Burung (AI) yang sampai saat ini telah menelan korban sekitar 64 orang dalam kurun waktu 2004-2008.
Aku sendiri berpikiran pendapat kedua ahli tersebut juga sangat relatif, coba diingat pada sekitar 2005-2006 peternakan unggas yang hancur akibat serangan virus Flu Burung adalah peternakan modern yang sudah menggunakan manajemen biosekuriti yang sangat ketat. Sedangkan peternakan ayam ala rumahan ibu-ibu tidak terkena wabah tersebut, kalaupun ada ya satu dua kasus saja. Oleh dosen saya Prof. Lukman Hakim, dikatakan bahwa ayam kampung yang banyak dipelihara masyarakat saat ini masih mewarisi sifat ayam hutan asli yang tahan terhadap penyakit.Namun langkah antisipasi dengan merubah cara beternak dari ayam lepas menjadi dikandangkan juga penting karena perkembangan virus patogen sangat cepat dan mudah beradaptasi. Tapi sekali lagi saya berpikiran jangan sampai karena ketakutan yang membabi buta terhadap virus Flu Burung, menyebabkan keinginan para Ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang murah bagi keluarganya, malah jadi keder sehingga banyak ayamnya yang dijual lagi atau langsung dipotong semuanya. Jika demikian yang terjadi, wah bisa-bisa pada akhirnya telur dan daging ayam kampung saja kita juga harus impor. Lagi…lagi….sedihnya….

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...