Selasa, 26 Januari 2010

Es Bubur Kacang Ijo Klentheng Khas Njombang

Waktu senggang begini memang pas banget buat nulis-nulis beberapa hal sepele tapi senantiasa menjadi kenangan. bagi aku pribadi sih, hal sepele semacam mencoba beberapa makanan yang udah lama dengar popularitasnya tak ga kesampaian untuk menikmati, adalah satu hal yang senantiasa sulit dilupakan, secara ini begitu mengenang banget. soale kroso..hehe..Kali ini aku mau sedikit berbagi tentang satu jenis makanan khas, khas banget pokoke, khas Njombang, kota santri dan ponari..hehhe..


yup, makanan khas itu adalah es bubur kacang ijo yang berada di dekat pasar legi Njombang, persisnya sebelah selatannya, klo punya teman orang Njombang tanya aja, pasti tau, klo ga tau, berarto bukan orang Njombang, alias Njombang-njombangan. Sebenarnya, tulisan tentang makanan yang satu ini sudah banyak, setauku sih beberapa kali dibahas di milis smuda joe. ah, peduli amat, yang penting aku menulis dan senang.
kembali ke inti cerita, jadi es bubur kacang ijo ini begitu terkenal di kalangan masyarakat Njombang, tua, muda anak-anak.kenapa? karena ni es bubur ueeenak buanget, manis dan gurihnya khas...maknyuss pokoke, apalagi dinikmati pas siang hari yang panas...mmmmmmm^^. beberapa waktu lalu, yaa..sekitar 3 minggu lah, saya jalan-jalan bawa motor bebek kesayangan keliling kota Jombang. karena kebetulan baru gajian, ah..muncul pikiran nyobain es bubur kacang ijo. karenaa...sudah sejak kelas 1 SMA, saya hanya dengar tok tentang enaknya ni makanan, tapi entah kenapa baru 3 minggu lalu kesampaian ni keinginan. pffuhh...ah, tapi alhamdulillah...dan memang nyata lo, bukan sembarang isu. dengan 2500 rupiah, sudah kudapat 1 mangkok es bubur kacang ijo klentheng. eh, ya ngomong2 ni bukan klentheng biji kapuk ya(pait tau..), tapi klentheng (e pertama dibaca kayak baca e nya benar, e kedua dibaca kayak baca eko), yaitu tempat ibadah umat konghucu di kota Njombang dan sekitarnya. jadi ni warung es bubur kacang ijo berada persis di samping kiri depan tempat ibadah umat yang merayakan hari raya imlek ini. berdasarkan penuturan dari teman-teman di Njombang, ni warung es bubur memang laris manis poollll, hampir ga pernah sepi setiap hari dan jam buka. dahsyat luar biasa...
Makanan yang meng-ikon, hanya ada di satu lokasi, enak dan harganya murah...wah jangan-jangan ni es bubur makin dahsyat jika ditambah sedikit air Ponari Sweat dan tanah....heheh...ini dia sedikit visualisasi es bubur kacang ijo Klentheng khas Njombang...


selamat memburu dan mencoba....^^


dari aku yang baru wisuda,

Taufan Rahmatullah...

Selengkapnya......

Senin, 11 Januari 2010

KOBE BEEF : Makanan lezat nan mahal

Pernah dengar istilah kobe beef atau daging steak kobe? Belum?..pernah mencicipi? belum juga?!!..kalau saya, pernah dengar tapi belum pernah mencicipi, hehe...Insya allah nanti kalau udah cukup uang.
Jadi, kobe beef adalah nama sebuah produk daging sapi yang biasanya digunakan dalam masakan daging steak. Dinamakan kobe beef karena dagingnya diperoleh dari sapi yang dikembangkan di daerah Kobe, pulau Honshu, Jepang. Sapi yang dikembangkan juga dikenal sebagai sapi Kobe atau Wagyu (wa = khas jepang, gyu = sapi), dimana secara asal-usul, sapi Kobe bisa dikatakan sapi endemis yang hanya ada di Jepang. Konon dahulu para peternak Jepang memberikan perlakuan khusus terhadap sapi Kobe. Ada yang mengatakan sapi Kobe diberi minum sake selama diternakkan dan dipijat secara rutin untuk melemaska otot-otot tubuhnya agar gemuk dan menghasilkan daging yang lembut. Istimewa bukan..anda pernah memijat hewan ternak anda? Hehe....^^
Tetapi saat ini, karena permintaan akan kobe beef yang begitu tinggi, luas lahan peternakan di Jepang yang menyempit, sapi Kobe kini dikembangkan di negara lain seperti Australia yang sejak 2005 berhasil mengembangkan pure bred (galur murni) keturunan sapi Kobe atau sapi Wagyu. Karena saking lezatnya dan begitu diminati oleh konsumen kelas atas, harga kobe beef sangat mahal. Sebagai contoh di sebuah restoran makanan Jepang di Jakarta menawarkan menu Japanese Prime Beef Shabu-shabu yang didalamnya ada 200 gram kobe beef dengan harga Rp.750.000-Rp.1000.000 bruto/porsi..dahsyaatt bukan!! Satu porsi kobe beef cukup untuk bayar uang kontrakan mahasiswa Brawijaya selama setahun.hheheh..
Mungkin ada yang bertanya, kenapa kobe beef bisa begitu lezat? Kenapa beda banget dengan daging sapi lainnya?..kenapa?..dan kenapa? ^^, well, ada banyak penjelasannya sih. Yang jelas menjadi begitu nikmat karena faktor serat daging dan perlemakannya. Nah disinilah kobe beef sulit ditandingi oleh daging sapi atau bahkan daging hewan lainnya. Dalam sebuah buletin yang dikeluarkan oleh Japan Meat Grading Ascociation, kobe beef dibedakan tingkatan kualitasnya berdasarkan Beef Marbling Score (BMS) mulai angka 1-12. ada yang belum mengerti istilah marbling? Marbling adalah kondisi perlemakan didalam daging termasuk daging sapi. Disebut marbling karena ketika karkas daging sapi dipotong membujur, akan nampak model lemak daging yang bulat seperti kelereng (marble). Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Universitas Queensland, Australia, lemak daging (intramuscular) pada kobe beef grade tinggi serupa dengan penampakan batu marmer (keren kan...!!), mengandung omega 3, kandungan lemak tak jenuh lebih tinggi dibandingkan lemak jenuh (2:1) sehingga bisa menurunkan kolesterol dalam darah. Artinya, kobe beef termasuk kategori pangan hewani yang sehat, meski nggak sehat buat kantong mahasiswa..hehe...apalagi sarjana muda wwkkwkw..
Nah, meski demikian hebatnya, bukan berarti kobe beef ini tokoh superheroes daging yang tanpa tanding. Saya teringat dalam sebuah perkuliahan bersama Prof. Lukman Hakim di kampus Peternakan Brawijaya. Beliau menyampaikan bahwa ada satu jenis sapi didunia ini yang berpotensi menyamai sapi Kobe dari Jepang, dan sapi itu adalah sapi asli Indonesia. Sapi apakah itu? Jika penasaran, anda bisa langsung menanyakan kepada Prof. Lukman untuk mendapatkan jawaban lengkap.
Tertarik untuk makan sapi kobe?..kerja dan jadi kaya dulu dong...heheheh....

Dari aku yang baru lulus,
Taufan Rahmatullah, S.Pt

Selengkapnya......

Sabtu, 09 Januari 2010

Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional, haruskah?..

Nampaknya keinginan sejumlah tokoh, baik lokal Jombang dan Jatim maupun nasional dan sejumlah elemen massa, begitu antusias, begitu bersemangat, begitu kuat banget keinginannya agar pemerintah RI saat ini menganugerahkan gelar kepahlawanan kepada mendiang Gus Dur. Saya sendiri sebagai orang Jombang, mohon maaf, agak bingung memang dengan keinginan itu.

Kenapa?..Karena menurut saya, saat ini itu belum terlalu urgen. Mohon diingat, bangsa ini sedang menghadapi banyak masalah besar yang menyangkut kehidupan orang banyak. Ada kasus bank Century, recovery kota Padang Sumatra Barat dan sekitarnya, krisis energi nasional, masalah global warming yang terus mengancam pertanian nasional dan yang terbaru adalah kiat cepat negara ini memasuki era pasar bebas ASEAN-China 2010. Saya bukannya menolak, toh belum punya alasan untuk menolak, tapi saya kurang setuju jika gelar itu diberikan secara tergesa-gesa tanpa melalui proses yang cermat dan adil. Ingat, para pahlawan lain pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan anugerah kepahlawanan dari pemerintah, Soekarno 15 tahun, Bung Tomo bahkan sekitar 2 tahun lalu baru mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Dan juga, seandainya saat ini ada yang bisa ketemu Gus Dur di alam baka (ngayal mode on), apa beliau juga setuju hal ini dilakukan? bukankah beliau adalah "pahlawan pembela rakyat kecil"? kira-kira beliau setuju nggak, gara-gara mempermasalahkan anugerah gelar kepahlawanan beliau, energi bangsa ini jadi tersedot habis dan mengabaikan isu-isu besar yang lebih penting yang menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat, bangsa dan negara ini?..Gus Dur adalah orang besar, Gus Dur adalah pemimpin luar biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Gus Dur adalah simbol perlawanan terhadap tirani dan kesewenang-wenangan. Jangalah hanya karena masalah anugerah kepahlawanan, kita malah gagal mewujudkan impian yang belum dicapai oleh beliau, janganlah karena masalah yang belum begitu urgen itu, kita menjadi orang berjiwa dan berpikir kerdil karena mengabaikan masalah bangsa dan negara yang menyangkut kehidupan orang-orang kecil. Saya 1000% yakin, Gus Dur akan semakin tersenyum bahagia di alam baka karena melihat kita tumbuh menjadi generasi penerus cita-cita beliau, generasi yang pantas memimpin negeri ini, generasi besar dengan jiwa dan pemikiran besar, dengan semangat besar. dan Gus Dur akan semakin bahagia, apabila anugerah kepahlawanan itu diberikan oleh Allah SWT, sebuah gelar yang tiada bandingannya, atas segala upaya Gus Dur dalam mendakwahkan Islam yang rahmatan lil alamin. So..gelar kepahlawanan ok, tapi jangan ngotot. Diberikan sekarang alhamdulillah..semoga itu buah karunia dari Allah SWT, diberikan lain waktu, jangan marah...toh, tanpa anugerah Pahlawan Nasional dari negara, beliau sudah menjadi pahlawan di hati saya, anda, masyarakat Indonesia dan mungkin mereka yang merasa pernah dibantu oleh beliau.

dari aku yang baru lulus,

Taufan Rahmatullah, S.Pt

Selengkapnya......

Jumat, 01 Januari 2010

Gus Dur, Harimau Njombang


Sebenarnya banyak yg jauh lebih paham, siapa Gus Dur dan bagaimana sejarah kehidupan beliau. Aku sendiri, dengan kapasitas terbatas, mempelajari beliau dari beberapa tulisan pemikiran beliau di www.gusdur.net, biografi Gus Dur hasil pinjeman dari salah satu senior, dan acara2 diskusi di televisi.

Bagiku, Gus Dur memang tokoh NU yg populis sekaligus kontroversial. Mulai dari masalah kedekatannya dengan tokoh2 Israel sampai pada peranan beliau dalam menggaungkan pemikiran liberal. Beliau besar bukan karena sebagai cucu pendiri NU, tp lebih karena sumbangan pemikirannya, yang boleh saya bilang orisinil meski kadang nyeleneh, melawan arus. tapi itulah Gus Dur, satu bagian kecil contoh wong Njombang dengan segala keunikannya, menanjak dan melukis sejarah bangsa Indonesia dengan kuas-kuas peradaban.Ah..jadi teringat dulu sekitar tahun 2002, waktu masih kelas 2 SMU, bersama adik sepupu main ke alon-alon kota Njombang, melihat acara temu warga PKB Njombang. disitulah, setidaknya, saya yang bukan keturunan kyai, wong ndeso biasa pol, bisa berkesempatan bertemu secara 'fisik' dan bahkan memeluk beliau, meski saja hampir digebugin Banser...heheh. Di waktu itulah, saya baru bisa merasakan atmosfer kharismatik beliau, yang selama itu hanya saya dengar dari orang lain. kini hampir tujuh tahun berlalu, Allah SWT telah mengeksekusi takdirNya, menjemput beliau untuk kembali ke haribaanNya. Satu lagi "Harimau Jombang" telah pergi meninggalkan kita semua.Selamat jalan Gus Dur, semoga amal ibadah anda diterimaNya, dan diampuni dosa olehNya. Amiin

dari aku yang baru lulus,

Taufan Rahmatullah, S.Pt

Selengkapnya......

Sabtu, 12 Desember 2009

Konsep Peternakan Rumung (Ruminansia-Unggas) : Sumber Gizi Murah bagi Keluarga


Mungkin saat ini tidak banyak generasi muda saat ini, terutama yang udah mau menikah, memikirkan bagaimana caranya nanti ketika sudah berkeluarga, bisa menyediakan makanan keluarga yang kaya gizi, terutama protein hewani, tanpa harus menyebabkan anggaran harian jadi bengkak. Atau bagaimana caranya, dengan penghasilan pas-pasan bisa setiap hari menyuguhkan telur rebus/goreng sebagai santapan bergizi bagi anak-anak. Sehingga harapan bagi tumbuhnya generasi yang cerdas dan cemerlang (brighter generation) bisa terwujud. Atau mungkin sudah terpikirkan, tapi butuh refrensi alternative bagaimana melakukannya?..sudahkah anda?..

Saya sendiri sih belum berkeluarga (hehe,doakan segera), tapi saya ingin membagi beberapa hasil pengamatan saya tentang bagaimana melakukan semua itu, yang mungkin sebagian orang berpikir nggak mungkin. Saya pribadi berpendapat, itu sangat mungkin. Bagaimanakah caranya? Adalah dengan membuat sebuah peternakan yang kecil namun terintegrasi, saya namakan konsep ini dengan nama Rumung, yaitu konsep peternakan yang mengintegrasikan model peternakan ternak ruminansia (sapi) dengan peternakan unggas (ayam kampung). Dan saya sarankan juga bagi anda, bahwa sebaiknya cari lokasi tempat tinggal di pedesaan, karena bisa lebih leluasa menerapkan konsep ini. Di kota juga bisa, namun harus melihat analisa SWOTnya, memungkinkan apa tidak.
Mengapa harus sapi dan ayam kampung. Pertama kedua jenis hewan ternak ini sudah umum dipelihara masyarakat dan relatif mudah dipelihara. Kedua, bahan pakan kedua jenis ternak ini sangat mudah didapatkan. Ketiga ternak sapi dan ayam bisa hidup berdampingan, bahkan menghasilkan suatu ekosistem yang mutualistik. Keempat, dari ternak ayam kampung bisa didapatkan produk telur dan daging bergizi bagi keluarga, sedangkan sapi bisa menjadi semacam tabungan masa depan keluarga. Kan lebih baik menabung uang dalam bentuk ternak, daripada di bank, apalagi bank Century, hehehe. Artinya melalui kedua jenis ternak ini, kita bisa mengkonversi (bio-konversi) berbagai macam jenis bahan/sampah organik menjadi suatu produk bergizi dan murah untuk dikonsumsi keluarga (from farm to table).
Nah bagaimana melakukannya? Klo yang sudah saya lakukan, saya memelihara sekitar 15 ekor ayam kampung dan satu ekor sapi. Dari satu ekor sapi ini, bisa menghasilkan sekitar 25-30 kg kotoran (faeces), tergantung jumlah konsumsi hariannya. Nah dari kotoran inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan baru bagi ternak ayam. Karena ternyata kotoran sapi ini bisa menjadi sumber munculnya belatung dan cacing tanah. Kedua jenis hewan “menjjikkan” ini mengandung protein kasar minimal 60%, dan setahu saya juga memiliki kecernaan yang sangat tinggi. Tentunya ini menjadi sumber pakan murah yang luar biasa berkualitas untuk mengoptimalkan daya produksi ayam kampung yang saya pelihara. Setidaknya dari kehadiran belatung dan cacing ini, bisa membantu menghemat sekitar 20-30% kebutuhan pakan bergizi bagi ayam. Kalau satu kilogram dedak sekarang seharga Rp.1800,00, dalam sehari butuh sekitar 2 kg dedak untuk 15 ekor ayam. Maka kita bisa hemat Rp. 540,00 (30%) dari pengeluaran untuk membeli dedak. Ayam bisa tumbuh lebih gemuk-sehat dan produktif menghasilkan telur, karena ada imbuhan lebih pakan berprotein tinggi dan kecernaan tiinggi. Belum lagi ditambah kehadiran rayap, pakan hidup berprotein tinggi yang juga sangat disukai oleh ayam. Mutualis ayam terhadap sapi, adalah dengan dipatuknya belatung yang ada di fesesnya, kehadiran penyakit dan lalat bisa ditekan. Klo bagi yang pelihara? Jelas berupa daging ayam, telur ayam kampung dan ternak sapi yang sehat.
Kalau sudah berjalan stabil, anda pasti akan menikmati hasilnya. Sudah tidak perlu lagi ada berita anak kurang gizi, atau keluarga tidak tumbuh dan hidup sehat hanya karena kesulitan menghadirkan makanan bergizi dirumah. Nah, apakah anda tertarik untuk mencoba?..:)


Selengkapnya......

Minggu, 01 November 2009

Bangun dari tidur karena sentakan panas Global Warming

Subhanallah...tak terasa, sudah sejak Mei (berarti sekitar 5 bulan) sampai sekarang saya baru mengupdate blog pribadi, yang rata-rata berisi tulisan ga penting ini. Yah, namanya juga amatiran yang masih terus belajar. Kalau kata teman saya, "pokoknya nulis aja, mau bagus kek, mau jelek kek kayak kamu, mau ga berbobot, nggak peduli, yang penting terus nulis dan nulis". Emang betul seh, dan kayaknya untuk membangkitkan semangat menulis saya yang sempat hibernasi selama 5 bulan ini, saya butuh sebuah sengatan. ya, sengatan!, tapi bukan sengatan tawon (akit soale..he he).

Sengatan itu ternyata adalah dampak global warming kepada iklim udara sekitar kita, termasuk rumah ortu saya, rumah tetangga, sawah-sawah, lapangan bola, barongan (jw:kebun belakang rumah yg banyak pohon bambunya) dan juga sungai-sungai.. dampak itu adalah panas, gerah, kekeringan dan kematian. Kalau daerah rumah saya yang di Mojowarno, Jombang sih, emang dari dulu kondisinya ga terlalu sejuk, meski saya masih ingat betul dulu waktu masih kelas 1 SD saya sering jalan-jalan pagi dengan mas dan adik menikmati udara pagi dan "kabut pagi!", sekali lagi "kabut pagi!". tapi sekarang, tidak ada lagi yang bernama kabut pagi di Mojowarno. Pagi di desa saya, sekarang disambut dengan udara hangat (jw:sumuk) dan kering.Bedaa banget..!
Terus tadi pagi, hari ini, saya menyempatkan main ke tempat teman saya yang ada di Wonosalam, tepatnya di desa Segunung. Kebetulan (sejak dulu), Jombang memiliki wilayah pegunungan dengan vegetasi yang cukup lebat (dulu). Terakhir tahun 2006 saya main ke desa Segunung, saya masih bisa merasakan dinginnya angin dan udara disana, ada banyak kabut pula. Hari ini? saya merasa kondisi udara di sana, hanya sebatas sejuk biasa. Sudah nggak sedingin dulu lagi. Ah...padahal, tujuan saya main kesana ya untuk ngisis (jw: mendinginkan diri dengan udara dingin). Saya sedikit kecewa, bukan pada teman saya tentunya, tapi pada perubahan udara, perubahan suhu iklim lokal, perubahan vegetasi yang begitu drastis ini. Lonceng peringatan yang sudah dipukul oleh para ilmuwan lingkungan sejak dulu tentang dampak global warming, yang oleh banyak pemimpin negara waktu itu dianggap angin lalu, kini sudah begitu jelas dampaknya pada kehidupan saya dan mungkin anda semua. ndak usah lagi memberi contoh jauh-jauh tentang lelehnya es di kutub utara dan selatan. di dalam rumah dan sekitar rumah kita saja, kita sudah pasti merasakan peningkatan suhu udara yang benar-benar signifikan. Ah celaka, apa yang Al Quran ingatkan makin jelas buktinya, ah celaka, ternyata ilmuwan-ilmuwan lingkungan itu benar, ah celaka, apa yang Al Gore kemukan ternyata benar, ah celaka, para pemimpin tuli itu ternyata salah, ah celaka, makin banyak danau mengering, ah celaka...ah celaka!!..Ampuni kami ya Allah, mudahkanlah kami, tolonglah kami.

Aku yang baru saja lulus,

Taufan Rahmatullah, S.Pt


Selengkapnya......

Sabtu, 09 Mei 2009

Ku Menulis Kembali

Ah, tidak terasa waktu berjalan hampir satu bulan sejak aku selesai penelitian di Batu. Entah mengapa, aku sepertinya mulai malas kembali membuat tulisan-tulisan entah pemikiranku, tulisan saintifik, politik atau sampai hal-hal yang menggelitik. Beberapa hal mengenai bagaimana momen terakhir penelitianku dan perpisahanku dengan sohib-sohib keren di kandang seperti mas Antok, Mas Agung, Pak Saeran, Mas Wiwit, Pak Slamet, Mbah Ri (eh..tapi orangnya rada gimana gitu), Pak Joko dll, momen situasi politik di fakultas yang masih abu-abu, momen ketika saya dan beberapa saudara seperjuangan saya melakukan rekreasi/rihlah ke pantai SendangBiru dan bermain sepuas-puasnya di Pulau Sempu, momen ketika saya secara bertahap namun pasti mengalami degradasi ruhiyah dan akhirnya bisa melakukan upgrade ruhiyah kembali, tulisan mengenai sejarah JAC dan ah masih banyak sekali momen-momen yang seharusnya dapat kurekam dalam tulisan sederhanaku ini. Ah mungkin bukan sekarang waktu yang tepat, tapi aku akan segera merampungkan beberapa hutang tulisanku ini. Bagi teman-teman harap bersabar ya. Insya Allah segera diselesaikan.


Selengkapnya......