Subhanallah...tak terasa, sudah sejak Mei (berarti sekitar 5 bulan) sampai sekarang saya baru mengupdate blog pribadi, yang rata-rata berisi tulisan ga penting ini. Yah, namanya juga amatiran yang masih terus belajar. Kalau kata teman saya, "pokoknya nulis aja, mau bagus kek, mau jelek kek kayak kamu, mau ga berbobot, nggak peduli, yang penting terus nulis dan nulis". Emang betul seh, dan kayaknya untuk membangkitkan semangat menulis saya yang sempat hibernasi selama 5 bulan ini, saya butuh sebuah sengatan. ya, sengatan!, tapi bukan sengatan tawon (akit soale..he he).Bangun dari tidur karena sentakan panas Global Warming
Subhanallah...tak terasa, sudah sejak Mei (berarti sekitar 5 bulan) sampai sekarang saya baru mengupdate blog pribadi, yang rata-rata berisi tulisan ga penting ini. Yah, namanya juga amatiran yang masih terus belajar. Kalau kata teman saya, "pokoknya nulis aja, mau bagus kek, mau jelek kek kayak kamu, mau ga berbobot, nggak peduli, yang penting terus nulis dan nulis". Emang betul seh, dan kayaknya untuk membangkitkan semangat menulis saya yang sempat hibernasi selama 5 bulan ini, saya butuh sebuah sengatan. ya, sengatan!, tapi bukan sengatan tawon (akit soale..he he).Ku Menulis Kembali
Ah, tidak terasa waktu berjalan hampir satu bulan sejak aku selesai penelitian di Batu. Entah mengapa, aku sepertinya mulai malas kembali membuat tulisan-tulisan entah pemikiranku, tulisan saintifik, politik atau sampai hal-hal yang menggelitik. Beberapa hal mengenai bagaimana momen terakhir penelitianku dan perpisahanku dengan sohib-sohib keren di kandang seperti mas Antok, Mas Agung, Pak Saeran, Mas Wiwit, Pak Slamet, Mbah Ri (eh..tapi orangnya rada gimana gitu), Pak Joko dll, momen situasi politik di fakultas yang masih abu-abu, momen ketika saya dan beberapa saudara seperjuangan saya melakukan rekreasi/rihlah ke pantai SendangBiru dan bermain sepuas-puasnya di Pulau Sempu, momen ketika saya secara bertahap namun pasti mengalami degradasi ruhiyah dan akhirnya bisa melakukan upgrade ruhiyah kembali, tulisan mengenai sejarah JAC dan ah masih banyak sekali momen-momen yang seharusnya dapat kurekam dalam tulisan sederhanaku ini. Ah mungkin bukan sekarang waktu yang tepat, tapi aku akan segera merampungkan beberapa hutang tulisanku ini. Bagi teman-teman harap bersabar ya. Insya Allah segera diselesaikan.
Momen bersejarah itu ada disebelah rumahku!

Pukul 06.00 WIB kesibukan beberapa anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di TPS 3 Desa Mojowarno sudah mulai terlihat. Kursi-kursi tunggu untuk para pemilih ditata rapi 2 ber-shaf. Meja-meja dan kursi bagi anggota PPS duduk dan melayani pemilih sudah ditata rapi dibawah pohon rambutanku yang cuma setinggi 3 meter (dari dulu segitu-gitu aja tingginya, he..he..).
Terpal sudah dipasang untuk melindungi diri dari terik sinar matahari yang begitu royal berbagi di Jombang beberapa hari ini. Kotak suara untuk anggota DPR-RI, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten, dan DPD sudah berjajar rapih. Bilik suara juga sudah disiapkan, ada 6 bilik suara berdimensi sekitar 50x60x50 cm dari alumunium yang sudah dijajarkan lengkap dengan alat penanda kartu suara yaitu pulpen warna merah. Kartu suara, lembar DPT, form berita acara, lembar pencatatan suara dan beberapa perangkat lain yang saya lupa sudah ditata rapi dan siap digunakan. Kesimpulannya, TPS 3 di sebelah rumahku (orang tuaku, he..he..) sudah siap untuk melaksanakan momen bersejarah yang bernama Pemilu 2009. All’ve been settled up!.
Para anggota KPPS di TPS 3 antara lain Pak Guru Yanto (ketua), Pak Polo Sunu (anggota), Mbak Ana (anggota), Mbak Naning (anggota), Mas Heni (anggota), dan Mbak Yani (anggota) ditambah lagi dua orang LINMAS/HANSIP yaitu mas Yayok dan Mas Andre memulai kegiatan pemilu dengan melaksanakan apel pagi. Apel (bukan apel batu malang ya, he..he..) pagi itu intinya adalah mengawali kegiatan dengan doa bersama dan pembacaan sumpah sebagai anggota KPPS untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam rumah, Ibuk juga sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk KPPS, NASI PECEL LAUK AYAM!, hmmm...enyak, he..he...Habis apel, sebagian anggota KPPS langsung sarapan pagi dan sebagian siaga di lokasi untuk menyambut kedatangan peserta pemilu.
Aku sendiri sedikit membantu menata kursi dan kotak suara, alasannya? Mmm, pengen bantu aja, he..he.. Dan para pemilih pun mulai berdatangan. Saat itu sudah pukul 06.30 kalau tidak salah. Berdasarkan keterangan dari Ketua KPPS, jumlah pemilih yang terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) TPS 03 berjumlah 387 orang, minus satu orang, sehingga total ada 386 orang pemilih. Hal yang menarik dalam pemilu kali ini adalah peraturan untuk membubuhkan tanda centang/contreng/cawang pada partai/CAD/DPD pilihan sebagai cara memilih disamping cara mencoblos. Menarik karena ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Menarik karena republik yang baru 11 tahun menikmati era kebebasan reformasi, yang baru memulai kembali pembelajaran demokrasi, yang masih memiliki keterbatasan SDM secara mayoritas sudah berani menerapkan sebuah sistem pemungutan suara yang berbeda ditengah-tengah kehidupan warga yang sudah terbiasa menggunakan cara mencoblos sekurang-kurangnya dalam delapan pemilu terakhir. Dan semakin menarik karena prediksi kesalahan mencontreng yang besar akan menjadi bagian dari irama pemilu kali ini. Wiuuh!, kalau dulu saja pak Nazarudin Syamsuddin (mantan Ketua KPU) menelan pil pahit penjara akibat permasalahan surat suara coblos tembus yang disahkan, lantas bagaimana dengan yang sekarang? Ada potensi masalah apa yang akan muncul dari ’sistem contreng’ kali ini? Wah kayaknya pak Hafidz Anshari harus ’siap-siap’ nih. Hmm..
Pukul 10.30 aku baru ikut antri di TPS. Beberapa teman lama waktu SD nampak, Dayat, Bruno, Zakaria, Udon, dan beberapa orang yang aku ingat wajah tapi lupa namanya (he..he..,sori boys). Proses pemilihan umum di TPS 03 dalam pandanganku berlangsung aman, lancar. Aku tidak melihat di lokasi ada aktivitas yang mengganggu seperti kampanye terselubung, pembagian uang, dan macam-macam aktivitas lain yang dilakukan dalam rangka mengarahkan pemilih untuk memilih calon atau partai tertentu. Tingkah laku beberapa pemilih di bilik suara bermacam-macam, ada yang tenang saja, ada yang bingung, ada yang agak jengkel karena lebarnya surat suara, ada juga yang kesulitan membaca karena beliaunya sudah sangat sepuh. Pas giliranku memilih, aku mengambil 4 jenis surat suara, surat warna kuning untuk memilih CAD DPR-RI, warna hijau untuk memilih CAD DPRD-Propinsi, warna biru untuk CAD DPRD-Kabupaten/Kota, dan warna merah untuk calon anggota DPD. Kubuka surat suara secara berurutan, lalu (dengan nada menyanyi) ”Contreng Pojok Kanan ataS!” he..he...(oops...).
Proses pemilihan diakhiri pukul 12.00 WIB teng!, selanjutnya dilaksanakan break selama 40 menit bagi KPPS untuk shalat dan makan. Kemudian proses penghitungan dilaksanakan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Aku sendiri lupa bagaimana hasil selengkapnya, yang jelas Partai Demokrat dan PDIP mendapatkan suara mayoritas. Mengenai partai Demokrat yang fenomenal ini saya ingin mengulasnya secara terpisah sambil menunggu hasil akhir penghitungan real count nasional KPU.
Apakah pekerjaan KPPS setelah penghitungan sudah selesai? Ternyata belum! Pasca penghitungan surat suara sah dan tidak sah, panitia KPPS harus melakukan rekapitulasi seluruh surat suara yang digunakan baik yang sah dan tidak sah dan surat suara yang tidak digunakan. Kemudian harus ”melipat” kembali surat suara yang digunakan kemudian dikaretin setiap 50-100 surat suara dan dimasukkan kedalam sebuah amplop yang sudah ditandai. Emm...pekerjaan ini memakan waktu hingga pukul 21.00 WIB. Fiuuh...beberapa panitia KPPS sudah nampak pucat dan kelelahan. Yups, selain ini sebagai pekerjaan (karena toh mereka dibayar), apa yang dilakukan oleh panitia KPPS ini adalah juga bagian dari rangkaian satuan kontribusi kebaikan bagi perubahan negeri ini. Dan semoga kontribusi mereka nantinya tidak menjadi ”sia-sia” akibat penyalahgunaan kekuasaan para penguasa negeri ini.Amin.
Para anggota KPPS di TPS 3 antara lain Pak Guru Yanto (ketua), Pak Polo Sunu (anggota), Mbak Ana (anggota), Mbak Naning (anggota), Mas Heni (anggota), dan Mbak Yani (anggota) ditambah lagi dua orang LINMAS/HANSIP yaitu mas Yayok dan Mas Andre memulai kegiatan pemilu dengan melaksanakan apel pagi. Apel (bukan apel batu malang ya, he..he..) pagi itu intinya adalah mengawali kegiatan dengan doa bersama dan pembacaan sumpah sebagai anggota KPPS untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam rumah, Ibuk juga sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk KPPS, NASI PECEL LAUK AYAM!, hmmm...enyak, he..he...Habis apel, sebagian anggota KPPS langsung sarapan pagi dan sebagian siaga di lokasi untuk menyambut kedatangan peserta pemilu.
Aku sendiri sedikit membantu menata kursi dan kotak suara, alasannya? Mmm, pengen bantu aja, he..he.. Dan para pemilih pun mulai berdatangan. Saat itu sudah pukul 06.30 kalau tidak salah. Berdasarkan keterangan dari Ketua KPPS, jumlah pemilih yang terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) TPS 03 berjumlah 387 orang, minus satu orang, sehingga total ada 386 orang pemilih. Hal yang menarik dalam pemilu kali ini adalah peraturan untuk membubuhkan tanda centang/contreng/cawang pada partai/CAD/DPD pilihan sebagai cara memilih disamping cara mencoblos. Menarik karena ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Menarik karena republik yang baru 11 tahun menikmati era kebebasan reformasi, yang baru memulai kembali pembelajaran demokrasi, yang masih memiliki keterbatasan SDM secara mayoritas sudah berani menerapkan sebuah sistem pemungutan suara yang berbeda ditengah-tengah kehidupan warga yang sudah terbiasa menggunakan cara mencoblos sekurang-kurangnya dalam delapan pemilu terakhir. Dan semakin menarik karena prediksi kesalahan mencontreng yang besar akan menjadi bagian dari irama pemilu kali ini. Wiuuh!, kalau dulu saja pak Nazarudin Syamsuddin (mantan Ketua KPU) menelan pil pahit penjara akibat permasalahan surat suara coblos tembus yang disahkan, lantas bagaimana dengan yang sekarang? Ada potensi masalah apa yang akan muncul dari ’sistem contreng’ kali ini? Wah kayaknya pak Hafidz Anshari harus ’siap-siap’ nih. Hmm..
Pukul 10.30 aku baru ikut antri di TPS. Beberapa teman lama waktu SD nampak, Dayat, Bruno, Zakaria, Udon, dan beberapa orang yang aku ingat wajah tapi lupa namanya (he..he..,sori boys). Proses pemilihan umum di TPS 03 dalam pandanganku berlangsung aman, lancar. Aku tidak melihat di lokasi ada aktivitas yang mengganggu seperti kampanye terselubung, pembagian uang, dan macam-macam aktivitas lain yang dilakukan dalam rangka mengarahkan pemilih untuk memilih calon atau partai tertentu. Tingkah laku beberapa pemilih di bilik suara bermacam-macam, ada yang tenang saja, ada yang bingung, ada yang agak jengkel karena lebarnya surat suara, ada juga yang kesulitan membaca karena beliaunya sudah sangat sepuh. Pas giliranku memilih, aku mengambil 4 jenis surat suara, surat warna kuning untuk memilih CAD DPR-RI, warna hijau untuk memilih CAD DPRD-Propinsi, warna biru untuk CAD DPRD-Kabupaten/Kota, dan warna merah untuk calon anggota DPD. Kubuka surat suara secara berurutan, lalu (dengan nada menyanyi) ”Contreng Pojok Kanan ataS!” he..he...(oops...).
Proses pemilihan diakhiri pukul 12.00 WIB teng!, selanjutnya dilaksanakan break selama 40 menit bagi KPPS untuk shalat dan makan. Kemudian proses penghitungan dilaksanakan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Aku sendiri lupa bagaimana hasil selengkapnya, yang jelas Partai Demokrat dan PDIP mendapatkan suara mayoritas. Mengenai partai Demokrat yang fenomenal ini saya ingin mengulasnya secara terpisah sambil menunggu hasil akhir penghitungan real count nasional KPU.
Apakah pekerjaan KPPS setelah penghitungan sudah selesai? Ternyata belum! Pasca penghitungan surat suara sah dan tidak sah, panitia KPPS harus melakukan rekapitulasi seluruh surat suara yang digunakan baik yang sah dan tidak sah dan surat suara yang tidak digunakan. Kemudian harus ”melipat” kembali surat suara yang digunakan kemudian dikaretin setiap 50-100 surat suara dan dimasukkan kedalam sebuah amplop yang sudah ditandai. Emm...pekerjaan ini memakan waktu hingga pukul 21.00 WIB. Fiuuh...beberapa panitia KPPS sudah nampak pucat dan kelelahan. Yups, selain ini sebagai pekerjaan (karena toh mereka dibayar), apa yang dilakukan oleh panitia KPPS ini adalah juga bagian dari rangkaian satuan kontribusi kebaikan bagi perubahan negeri ini. Dan semoga kontribusi mereka nantinya tidak menjadi ”sia-sia” akibat penyalahgunaan kekuasaan para penguasa negeri ini.Amin.
Ayo kita Mencontreng

Wah, tidak terasa setelah lebih dari 1 bulan merasakan muaknya iklan, kampanye, sosialisasi atau apalah itu namanya (yang semua demi mendulang suara), akhirnya berakhir juga momen2 itu.
esok tanggal 9 April 2009 adalah hari yang bersejarah bagi bangsa ini. nasib bangsa 5 tahun kedepan ditentukan (maksudnya diikhtiarkan). hitam putih, ijo abang, baik buruk kapal besar bernama Republik Indonesia ini akan ditentukan melalui jutaan "suara rakyat" yang disalurkan melalui kertas suara dari tiap bilik suara di tiap TPS di tiap daerah (hehe..). Meski saya tidak setuju dengan pernyataan "suara rakyat adalah suara Tuhan" karena memang tidak mungkin sama, tetapi saya setuju bahwa bagaimana arah bangsa ini melaju adalah ditentukan oleh suara rakyatnya sendiri. jika yang mayoritas menginginkan partai A yang menang, ya demikianlah nanti negara ini akan diwarnai (mayoritas) oleh kebijakan gaya partai A, apalagi capres yang menang juga dari partai A, hal ini berlaku juga untuk partai B dan seterusnya. Namun bila masyarakat ini (mayoritas) menginginkan untuk tidak memilih alias golput dengan berbagai alasan, dan itu hak mereka juga, maka mungkin memang demikianlah keinginan masyarakat. meski tidak jelas juga, yang golput itu karepnya piye terhadap bangsa ini. Saya sendiri insya Allah akan menggunakan hak suara saya di Pemilu 2009 ini, dan saya tidak menganjurjkan bagi teman-teman siapapun anda yang penting WNI yang sudah berhak (kecuali Polri, TNI, he he) untuk menjadi bagian dari golput. Yah, sebobrok apapun para caleg dan partai yang menjadi kontestan, insya Allah masih bisa dikorek-korek yang masih baik. Ini saya utarakan bukan untuk tendensius pada salah satu partai, tetapi sekadar menyampaikan saran bahwa dengan kita menggunakan hak suara di Pemilu adalah bagian dari menjaga kebebasan kita berdemokrasi itu sendiri, bayangin aja kalau terus-terusan jumlah golputnya meningkat..hmm apa yang akan terjadi ya...(menarik, tapi kok rasanya ngeri juga liat negara jadi collapse karena sudah tidak legitimate, tidak representatif lagi...).hmmff.... ah ya saya ada puisi sebagai penutup tulisan ini (kalau jelek, maklum lah ya..he...he...)
National Election, ur right!
National election will be held
but people live like in hell...
fell down into deep despair...
but we have right to be shared...
use it!, or silent like a sleeping bear!...
National Election, ur right!
National election will be held
but people live like in hell...
fell down into deep despair...
but we have right to be shared...
use it!, or silent like a sleeping bear!...
Motor Astrea Prima 100 cc kesayanganku
Wah setelah sekian lama mencari inspirasi di tengah pergulatanku dengan sapi-sapi perah yang nakal bin nyebelin karena susunya sedikit melulu produksinya (he..he...sori ya pi..) akhirnya sebuah kejadian yang boleh dibilang tak terlupakan, unik, ngeri, capeee, puegeelll, plus hampir jatuh dari sepede menjadi inspirasi bloggingku kali ini. Ceritanya kumulai dari motorku ini ya. Yup, sebagai salah satu pemuda desa yang dikirim ke kota untuk menimba ilmu (ciee...) maka untuk mempermudah masalah transportasi, ortuku memfasilitasiku dengan sebuah motor bebek merek Honda (keren kan, he...he...), jenis Astrea Prima kapasitas 100 cc, buatan tahun 1990, no rangka NB19253720, no Mesin NBE1152327 (kira-kira seperti itu yang tertulis di STNK), kondisi mesin mulus, kondisi lain-lain juga mulus (insya Allah). Yaa, klo dibandingin dengan motor-motor temenku yang keluaran terbaru, tampangnya jauh lah, tapi bagiku yang penting fungsional boy,he..he...Dan sepertinya memang jauh lebih baik punya motor bekas kayak punyaku ini daripada punya motor baru, soalnya di Kota Malang masalah curanmor menempati rangking kasus kriminal papan atas, dan motor baru semacam Jupiter Z, Jupiter MX, Supra Fit, Mio dll jadi sasaran paling empuk. Yang ga jadi sasaran empuk ya Honda 800, Astrea Prima, Honda BMW (bebek merah warna), binter, dan sederet motor butut lainnya (kecuali malingnya kepepet betul, baru deh...). Punya motor butut juga punya manfaat lain , yaitu tidak akan ada gadis genit bin centil bin pakaiannya ga sopan (apa lagi gadis muslimah/akhwat, he..he...) berminat untuk dibonceng. Pastinya kan tidak pas, gadis genit kok naiknya motor Astrea Prima 100 cc buatan 1990, gadis genit ya minimal motor-motor baru kayak Honda Vario, Yamaha Mio dll.
Tapi punya motor butut juga punya banyak kelemahan loh, he...he..., kayak motorku ini, masalah busi selalu menjadi masalah no satu, kemudian masalah oli yang terus bocor, dan yang terakhir tenaganya lemah klo dipake untuk daerah tanjakan. nah ini dia sambungannya, saat penelitian kemarin, stok bahan pakan ternakku yang berupa gamblong (gamblong=onggok, limbah tapioka) habis, aku dan temanku terpaksa harus mengambil gamblong ke desa Junrejo, Batu. Lokasinya kira-kira 4 km dari UPT HMT Batu tempat aku penelitian. dan secara geografis, desa Junrejo posisinya lebih rendah dari tempatku penelitian. Problemnya adalah tidak ada mobil bak yang bisa dipinjam, ada truk tapi tak ada yang bisa nyupirin, yang ada hanya 2 motor bebek (satunya punyaku yang butut), dan beban bahan pakan ternak yang akan diangkut kurang lebih 40 kg setiap karung. Kompleks sudah. Saat bahan pakan dinaikkan ke motor saja, motorku sudah berguncang dahsyat, soalnya ada dua karung yang harus kuangkut. Awal jalan, masya Allah, motorku goyang kiri dan kanan, brmm...brmmm, alhamdulillah lancar. Selanjutnya adalah masa yang paling sulit yaitu melewati jalan menanjak antara desa Junrejo dengan desa Tlekung. Semuanya lancar, kecuali pada jalan tanjakan terakhir, motorku ngadat, astaghfirullah, motorku oleng, hampir saja aku jatuh. Waduh, bener-bener pengalaman konyol bin menarik, ha...ha....Sesampainya di tempat penelitian, aku ditertawain teman-temanku, motor kotor, dan encok pegelinu ku kumat. Wah karena kejadian ini, jadi makin bersemangat untuk segera lulus, bekerja n menikah, jadi klo pegel2 kayak tadi, langsung bisa minta istri mijitin, he...he.....
Lactoscan
Image via Wikipedia
Hari ke 7 dari penelitianku. Bu Bekti, Kepala BPT HMT Batu, akhirnya memberikan izin untuk menggunakan laktoscan. Laktoscan adalah alat uji kualitas susu dengan tingkat akurasi dan kecepatan ouput data yang cepat.
Kabarnya sih ni alat mahal banget,harganya antara 20-25 juta satu buah saja. Karena itu Bu Bekti mengamanahkan pada Mas Wiwit, staff yang sudah terlatih, untuk mendampingi aku kalau-kalau nanti aku hendak melakukan uji kualitas susu. Sekarang ini yang masih jadi tanda tanya bagiku adalah berapa biaya yang harus dibayar untuk setiap satu kali uji?...Hmmm, misalkan biayanya mencapai Rp.20.000/uji sampel, padahal aku harus menguji sekitar 45 sampel, berarti yang bakal kubayar sekitar...aduh, matri aku!
Malang, 28 Februari 2009
Sabar iku penting fan...
Image by д§mд via Flickr
Sesaat ketika beristirahat dari rutinitasku selama di lokasi penelitian, aku tercenung dengan satu hal yang dulu sangat sering diutarakan oleh guruku.
"Sabar iku penting fan.." begitu nasehat beliau ketika sambil duduk-duduk bersama di sebuah gubug sederhana di kebun rumah beliau. nasehat itu sederhana redaksionalnya, namun mendalam maknanya, meluas implikasinya. Aku sendiri masih belum istiqomah dalam menaati nasehat beliau, sebagaimana nasehat itu sebenarnya diambil dari QS. Al Baqarah 153 "..sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar..". Kesabaran adalah keindahan, keindahan bagi diri, keindahan bagi orang lain, keindahan bagi masyarakat. Kamu tahu kenapa? Karena apa lagi yang lebih indah selain keindahan karena kebersamaan diri ini dengan Allah SWT?..
Sebuah langkah dan niat awal
Faisol Amin, Aryuda dan aku sendiri pada tanggal 22 Februari 2009 telah bersusah payah mengumpulkan segala daya yang dimilikimulai dari niat (he..he..), keberanian, semangat, bahan baku pakan, surat jalan penelitian, alat makan, baju ganti, alat mandi,
alat sholat, de el el..untuk segera memulai penelitian kami yang seharusnya kami sudah memulai penelitian sejak Januari lalu.
alat sholat, de el el..untuk segera memulai penelitian kami yang seharusnya kami sudah memulai penelitian sejak Januari lalu.
Tentunya keterlambatan ini bukan salah kita donk (ciee...ngeles..!) Kita terlambat karena sapi perah yang kita butuhkan masih
belum jelas ketersediaannya, sehingga kita bertiga harus putar otak (akhirnya pusing sendiri..) bagaimana caranya penelitian bisa
tetap berjalan. Alhamdulillah, Bu Herni dosen Rancangan Percobaan kami membantu memberikan solusi penelitian dengan 9 ekor sapi perah dari 15 ekor yang seharusnya. Terima kasih ibuu..
Kami pun berangkat ke lokasi yang ada di Desa Tlekung, Kota Batu, sekitar 15 km dari kampus Brawijaya, dan naik dekat bukit Panderman dan BNS. nah ketika kami datang, kami sudah disambut kepala BPT HMT (Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak) Bu Bekti, dimana pas pada hari tersebut ada rombongan dosen dan mahasiswa Kedokteran Hewan dari kampus Univ Airlangga. "Sudah siap tinggal di asrama? " tanya bU Bekti kepada kami, "Insya Allah siap bu!" jawab kami kompak. Kemudian kami diperkenalkan dengan beberapa staf di kandang seperti Mas Antok (orange guede..), Pak Edi, Mas Wiwit (bagian cooling room), dan pak Pendik (bagian pemerah), mas Agung (anak kandang), dan beberapa staf lain yang masih belum kami kenal. Dan kebetulan banget disini juga sudah ada mahasiswa satu kampus tapi adik kelas yang sedang PKL (Praktik Kerja Lapang) mereka antara lain Harumi Yusinta anak PROTER 2006 dan Hani anak SOSEP 2005. " Wah mas, mau penelitian ya..?" tanya Hani, "insya Allah, soale kita-kita dah ketuaan klo di kampus terus.." jawabku, "Kamu disini PKL, dah berapa lama ?" tanyaku , "Masih 10 hari mas" kata Hani, "Oo, klo kita bakal 6 minggu disini, wah lumayan ada tambahan teman disini"sautku.." Ok mas, kita saling membantu ya..he..." kata Hani.
Sore hari kita cuma mengisinya dengan sedikit acara bersih-bersih asrama (katanya sih angker..hiii...!!) sebagai lokasi kos "gratis" kami. Nah karena kebetulan hari itu aku juga ada Rakerda KAMMI Daerah Malang, terpaksa aku tinggal sebentar balik ke kota Malang. Eh ternyata, karena situasi belum "terdaptasi betul" kedua temanku Faisol dan Yudha, sms aku " Fan kita ikut turun juga ya, soale kurang sip tanpa ada kamu, he...he..., laptopmu kubawain sekalian, kita nikmati malam ini dengan tenang di kosan dulu, ok". wealah, rek-rek..






![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_a.png?x-id=02054106-e92b-465d-b0c0-2241389545ea)
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_a.png?x-id=97ddb7ec-c328-4d14-96c1-0f7a06e5d549)





